Memo -Ditulis oleh Yeptirani-

Blog ini adalah blog idealis saya. Saya mencoba belajar berbagai bahasa di dunia melalui blog ini. Bahasa yang ingin saya pelajari antara lain adalah bahasa Inggris, bahasa Perancis, dan bahasa lainnya.

Karena itulah, walaupun saya masih dalam tahap belajar, dan walaupun tidak banyak orang yang mampir, saya tetap mempertahankan blog ini. Itu semua wujud usaha saya dalam belajar.

Jika Anda menengok blog multibahasa saya ini, mungkin Anda akan menemui banyak kata-kata janggal yang tidak lazim digunakan. Maafkan saya. Itu semua karena saya bukan merupakan pengguna bahasa tersebut.

Saya akan sangat berterima kasih apabila Anda menegur lewat "komentar" atau surat elektronik saya saat Anda menemukan kata-kata janggal. Agar blog ini dan diri saya dapat berkembang lebih baik lagi.
Terima kasih banyak atas perhatian Anda.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Minggu, 04 Januari 2009

Asta Tinggi, Bagian II

Makasih buat Areep yang udah ngusulin ke aku supaya aku bikin rute menuju Asta Tinggi. Walaupun aku gak yakin, apa aku bisa bikin rute yang dimaksud. Sebab, aku sangat parah kalau sudah bicara tentang navigasi. (Jangan nanya mana barat mana timur sama aku, aku gak bakalan tahu! ^0^)

Kita mulai dari yang paling gampang aja, ya...

Untuk menuju ke Asta Tingi, setelah kita sampai di pintu gerbang perbatasan Kota Sumenep, sebenarnya cuma ada 3 belokan saja. Belok kiri, belok kiri, dan belok kanan. Sungguhan, loh! ^_^

Begitu sampai di gerbang Kota, kita tinggal ikuti saja jalan utama, luruuuuusss terus sampai menuju Tugu di tengah kota. (Pokoknya, kalau sudah lihat tugu itu, artinya kita ada di tengah kota, orang Sumenep sendiri menyebut bundaran di tugu itu dengan sebutan "Kota").

Lalu kita belok kiri, teruuuuss jangan hiraukan persimpangan, sehingga kita akan menemukan jalan dimana memang mengharuskan kita untuk belok kiri. ^_^ Kenapa gitu? ya karena sebenarnya ini jalan lurus yang berbelok. Aduh, gimana ya? Yah, jalan lurus yang berbelok,lah! ^0^

Kita akan menyeberangi Jembatan Kebonagung di atas Sungai Kebonagung.

Nah, kalau sudah sampai jembatan itu, artinya tinggal selangkah lagi ke Asta Tinggi. Kita tinggal melihat rambu-rambu saja. Di sana ada petunjuk belok kanan menuju Asta Tinggi.

Jalan menuju Asta Tinggi sangat curam. Jadi, untuk yang tidak pandai mengemudi, berhati-hatilah!. Namanya juga Asta Tinggi, makam yang tinggi.

Di luar kawasan Asta Tinggi, bukan hanya makam raja-raja yang bisa jadi pemandangan. Di sana ada juga sebuah gua yang terdiri dari batu kapur, yang tembusannya tuh ada di tepi Sungai Kebonagung.

Namanya Gua Jeruk.
gua jeruk

Waktu aku kecil, aku sering masuk gua ini, terus munculnya di tepian Sungai Kebonagung, terus lanjut pulang ke rumah. Kalau masuk gua dari Asta Tinggi dan muncul di Kebonagung, gak terlalu capek, tapi kalau kebalikannya, sangat melelahkan. Secara kontur dalam gua kan menanjak dan curam.

gua jeruk2

Tapi sekarang, Gua Jeruk sudah tidak terawat lagi. Gak tahu kenapa gua ini kok gak dijadiin obyek wisata. Padahal, waktu kecil dulu, aku suka sekali menjelajahi gua ini. Berasa jadi Indiana Jones, loh. (Dulu kan aku habis nonton film Indiana Jones waktu masuk gua ini. Berasa berpetualang gitu).

gua jeruk3

Sedih sih, melihat gua ini jadi tempat sampah penduduk sekitar. Kalau sudah banyak sampah yang numpuk kayak gitu, siapa juga yang tega masuk gua ini?. T_T

Semoga aja deh, Pemda Sumenep bisa memperhatikan gua ini. Gua Jeruk ini potensi wisata buat Kota Sumenep, loh.

Baca Selengkapnya >>

Sabtu, 03 Januari 2009

Asta Tinggi: Komplek Makam Raja-raja Sumenep



Setelah acara Baantaran pada hari Minggu (2 November), besoknya (Senin, 3 November), kami membawa keluarga besan untuk jalan-jalan keliling Madura. Tujuan kami kali ini adalah Asta Tinggi, komplek makam raja-raja Sumenep.

Terletak di Kabupaten Sumenep, di sebuah bukit, Asta Tinggi memang diperuntukkan sebagai komplek makam bagi Raja-raha dan keturunannya. Jadi yang dimakamkan di Asta Tinggi ini adalah orang-orang yang memiliki sertifikat sebagai keturunan Raja-raja Sumenep.

Gerbang Asta Tinggi

Asta Tinggi (asta=makam,peristirahatan), terdiri dari tiga komplek makam. Yang pertama adalah komplek makam bawah, yaitu komplek makam yang diperuntukkan sebagai makam para Raden rendahan. Orang-orang yang "hanya" memiliki gelar "Raden" tanpa embel-embel lainnya, berhak dimakamkan di sini.

Yang Kedua adalah komplek makam luar, untuk Raden menengah, -aku gak tau Raden apaan-, yang jelas mereka bukan keturunan langsung dari raja Sumenep.

Makam luar

Aku gak tahu kenapa, sepertinya komplek makam ini adalah makam tua yang gak terurus. Apa karena sudah gak ada lagi yang berhak di makamkan di sini, ya?

Dan yang terakhir adalah komplek makam dalam, tempat keturunan langsung raja dimakamkan.

makam dalam

Yang berhak dimakamkan di sini adalah keturunan langsung dari Raja-raja Sumenep. Biasanya gelar mereka adalah Raden Panji, Raden Bagus, dan Raden Aju (Raden Ayu, di Sumenep gak ada gelar Raden Ajeng, adanya Raden Aju yang dibaca Dinaju).

Banyak yang bisa kita pelajari di Asta Tinggi ini, misalnya sejarah Raja-raja Sumenep. Karena di komplek makam ini terdapat makam Raja Sumenep yang terkenal yaitu Pangeran Jimad, Bindara Saod, dan Pangeran Panji Pulang Jiwa. (Untuk yang terakhir disebut, udah bikin aku kesel! tar deh aku ceritain).

kubah p jimad
kubah bindara saod
kubah p panji pulang jiwa

Pangeran Panji Pulang Jiwa bikin kesel? Iya!
Ceritanya gini, ada mitos di Sumenep yang mengatakan apabila kita memotret kuburan di komplek makam tersebut, kamera atau hasilnya akan rusak. Aku gak percaya!

Bunda juga pernah bilang, sih. Bahwa beliau dulu pernah memotret bagian dalam makam, tapi dengan kamera analog. Hasilnya terbakar semua. Aku gak percaya!

Dan kemarin, aku dengan pedenya memotret semua makam di dalam (yang nisannya dibungkus kain merah itu loh). Dan ketika sampe ke Kubah Pangeran Panji Pulang Jiwa, baterai kameraku habis (aku pakai kamera digital). Kameraku hang setelah aku memotret makam sang Pangeran. (>_<)

PPanjiPulangJiwa

Kebayang gak keselnya aku? Bete banget!

Langsung saja aku keluarkan MMC dari kamdig ku, sapa yang tahu apa yang bakal terjadi sama memori di dalamnya?

Dan aku lanjut motret pemandangan lain make kamera di hape. Bodo amat kalo hapeku rusak. Beli lagi aja. Yang jelas aku gak bakalan melewatkan kesempatan emas ini. Kapan lagi aku bisa datang ke Asta Tinggi n motret-motret?

Tahu gak? setelah turun dari komplek Asta Tinggi, kamdig ku kembali normal. (@_@)
Percaya, gak?

Baca Selengkapnya >>