Keluargaku adalah keluarga kecil. Orang tuaku hanya punya dua anak, dua-duanya perempuan, yaitu aku dan adikku. Aku adalah anak sulung.
Enam belas tahun yang lalu, sesuatu terjadi sehingga orang tuaku harus berpisah. Aku dan adikku tinggal bersama ibuku yang aku panggil Bunda. Sejak saat itu, jumlah keluargaku menjadi tiga orang.
↑Adikku, Bunda, dan Aku↑
Setelah aku menikah pada 25 Januari yang lalu, jumlah keluargaku makin besar. Karena, selain suamiku masuk jadi anggota keluargaku, orang tua suamiku juga menjadi keluargaku.
Mama dan Papa, orang tua suamiku, memiliki empat anak. Tiga anak laki-laki, satu anak perempuan. Anak laki-laki tertua dan anak perempuan sudah menikah, anak laku-laki nomor dua masih lajang, dan anak laki-laki bungsu – suamiku – yang juga sudah menikah. Cucu mereka ada lima. Aku belum menyumbangkan cucu buat mereka. (^_^ => mohon doanya!)
↑Aku dan suamiku di antara Mama dan Papa↑
Sekarang, aku dan suamiku tinggal terpisah dari orang tua kami. Kami tinggal berdua di rumah ini. Sangat romantis. (^_~)
Memo -Ditulis oleh Yeptirani-
Karena itulah, walaupun saya masih dalam tahap belajar, dan walaupun tidak banyak orang yang mampir, saya tetap mempertahankan blog ini. Itu semua wujud usaha saya dalam belajar.
Jika Anda menengok blog multibahasa saya ini, mungkin Anda akan menemui banyak kata-kata janggal yang tidak lazim digunakan. Maafkan saya. Itu semua karena saya bukan merupakan pengguna bahasa tersebut.
Saya akan sangat berterima kasih apabila Anda menegur lewat "komentar" atau surat elektronik saya saat Anda menemukan kata-kata janggal. Agar blog ini dan diri saya dapat berkembang lebih baik lagi.
Terima kasih banyak atas perhatian Anda.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kamis, 03 Desember 2009
Keluargaku
Selasa, 29 September 2009
Mengapa Kita Memanggilnya “KOREA”?
Setelah membahas asal mula sebutan “CHINA” dan “JEPANG,” kali ini giliran Korea yang kita bahas.
Negara yang terpecah menjadi 2 ini terletak di Semenanjung Korea, berbatasan dengan Jepang, Rusia, dan China.
Negara yang masih serumpun dengan China dan Jepang ini juga memunyai nama endonim yang jauh berbeda dengan nama eksonim yang kita kenal, yaitu 한국/조선 (Han Guk/韓國).
Artinya? Apa lagi kalau bukan “Negeri Han.”
Jadi, mengapa kita memanggil negeri ini dengan “KOREA”?
Sebutan “KOREA” diambil dari dinasti terbesar di Korea, yaitu Dinasti Goryeo (935M-1392M).
Orang China menyebut nama dinasti ini untuk merujuk negaranya. Mereka mengeja dinasti ini dengan Kauli. Ejaan itu menyebar ke Eropa dan negara-negara lainnya sehingga muncul ejaan baru yaitu Korea, dan Corea.
Dalam bahasa Korea (Han Guk O), negeri Korea Selatan disebut 대한 민국 (Dae Han Min Guk/大韓民國) atau disingkat 한국(Han Guk/韓國). Di kancah internasional, negara ini disebut dengan “Republik Korea.” Dan negara ini disebut 남조선 (Namchosŏn/南朝鮮) atau “Chosŏn Selatan” oleh penduduk Korea Utara.
Sedangkan Korea Utara (Republik Rakyat Demokratik Korea), disebut 조선민주주의인민공화국 (Chosŏn Minjujuŭi Inmin Konghwaguk) atau disingkat menjadi 조선 (Chosŏn), diambil dari nama dinasti terakhir yang memerintah Korea yaitu Dinasti Joseon (1392M-1897M). Penduduk Korea Selatan menyebut negara ini dengan 북조선 (Pukchosŏn) atau “Chosŏn Utara.”
Demikianlah asal mula kita menyebut negara ini “KOREA” (^_^)
Sumber: Berbagai sumber.
Rabu, 09 September 2009
Bagaimana Asal Mula Nama "JEPANG"?
Jepang adalah sebuah negara yang terletak di sebelah timur benua Asia. Penduduknya homogen, yaitu suku Ainu. Jepang terkenal sebagai negara maju karena teknologi namun masih mempertahankan kebudayaan lokal. Penduduk asli Jepang menyebut negara mereka dengan 日本 (Nippong/Nihong) yang artinya “tempat matahari berasal/negeri matahari terbit").
Hmm, lalu bagaimana bisa disebut JEPANG?
Ini berhubungan dengan Restorasi Meiji. Seperti kita tahu, sebelum Meiji berkuasa (1868-1912), Jepang adalah sebuah negara yang tertutup dari dunia luar karena pemimpinnya, Shogun Tokugawa, tidak suka akan pengaruh dunia luar terhadap kebuadayaan Jepang. Karena itu, negara-negara luar mengenal Jepang dari negara tetangganya, yaitu China.
Dalam bahasa Mandarin, bahasa nasional di China, huruf 日本 dibaca dengan “Ri Ben” (/:ze pen/). Sudah bisa melihat benang merahnya? Ya, dan Marco Polo menulis ejaan itu dengan kata “Cipangu.”
Dalam bahasa Melayu Kuno, negara ini memang disebut dengan “Jepang” mengadopsi dari bahasa Mandarin. Nama Jepang dalam bahasa Melayu kuno inilah yang dibawa ke Eropa oleh pedagang Portugis dan berkembang ejaan dan pelafalannya menjadi Japon (bahasa Perancis), Japan (bahasa Inggris), Giaponne (bahasa Italia), Japão (bahasa Portugis), dan lain-lain.
Nama resmi negara ini sampai akhir perang dunia II adalah 大日本帝國 (Dai Nippon Teikoku/Kerajaan Agung Jepang). Namun, kini nama resmi negara ini adalah 日本国 (Nippon Koku/Negara Jepang).
Sumber: Beberapa sumber
Selasa, 08 September 2009
Darimana Nama "CHINA" Berasal?
Semua tahu di mana negara ini. Sebuah negara daratan di "tengah" Benua Asia. Negara ini memiliki populasi penduduk terbesar di dunia. Penduduknya berkulit kuning dan bermata sipit.
Tahu tidak, kalau "China" itu adalah kata eksonim untuk nama negara ini? (*Eksonim = nama sebutan untuk suatu tempat yang tidak dipakai oleh penduduk tempat tersebut; Endonim = nama sebutan untuk diri sendiri)
Sedangkan kata endonim untuk "China" adalah 中国/中國 atau "Zhōngguó" (baca: chung kuo) yang artinya "Kerajaan Tengah" (中/Zhōng /:chung/ = tengah/pusat; 国/Guó /:kuo/ = negara/kerajaan).
Lalu bagaimana ceritanya bisa sampai jadi "CHINA"?
Kata "china" berasal dari kata CIN, yaitu sebutan untuk negara China dalam bahasa Persia yang dipopulerkan di Eropa oleh Marco Polo. Juga berasal dari bahasa Sanskerta untuk negara ini, Cīna. Kata ini disebut pertama kali pada abad kelima SM dalam kisah Mahābhārata, yang mengacu pada suku barbar utara berkulit kuning.
Suku ini teridentifikasi sebagai Dinasti Qin (秦 /:cin/), dinasti yang berkuasa di China pada 221SM-206SM.
Dalam bahasa Latin, kata China mengacu pada Sinia (sekarang "sino-").
Sekarang, nama resmi negara tersebut adalah 中华人民共和国 atau "Zhōnghuá Rénmín Gònghéguó" (/:chunghua zenmin konghekuo/) yang artinya adalah "Republik Rakyat China" atau disingkat 中国/Zhōngguó.
Demikian awal cerita mengapa sekarang kita menyebut negara ini CHINA.
Sumber: Berbagai sumber
Selasa, 18 Agustus 2009
Baralek, Pesta Pernikahan dalam Adat Minang
Setelah sukses menyelenggarakan Upacara Basanding (Pesta Adat Banjar), kami sekeluarga mengadakan upacara pernikahan dalam adat Minang yang disebut Baralek.
Baralek, secara harfiah artinya "pesta", seperti Basanding (duduk berdua), Baralek diadakan sebagai tanda syukur karena salah seorang anak dalam keluarga telah menikah.
Biasanya, Baralek diadakan secara mewah di dalam gedung, dan disebut Baralek Gadang (Baralek=pesta, Gadang=besar). Namun, karena kami mengadakan baralek secara sederhana, maka kami menyebutnya Baralek saja, tidak pakai "gadang" (^_^)
Baralek yang kami adakan, diadakan dalam sub-adat Agam.

Pertama, upacara dimulai dengan acara Mendoa (berdoa bersama)
Setelah itu, Baralek-nya (^_^)



Anak Daro (Mempelai Perempuan)
Marapulai (Mempelai Laki-laki)
Keluarga Marapulai
Keluarga Anak Daro 
Seluruh Keluarga
Foto-foto lainnya dapat dilihat di Facebook, di Friendster, atau di Multiply.
Minggu, 01 Maret 2009
Basanding : Sebuah Perayaan Pernikahan dalam Adat Banjar
Setelah aku resmi menjadi istri dari suamiku, yang telah mengucapkan Ijab Kabul dalam Akad Nikah pada tanggal 25 Januari 2009, keluargaku mengadakan syukuran atas pernikahan kami. Dalam adat Banjar, perayaan itu disebut dengan 'Basanding' atau 'Batatai.' Arti kata 'Basanding' adalah bersanding, dan 'Batatai' mempunyai arti harfiah duduk berdua.
Acara basanding/batatai sebenarnya adalah klimaks dari serangkaian ritual pernikahan dalam adat Banjar. Acara lainnya adalah Basasuluh, Badatang/Bapara, Bapapuyuan, Baantar Jujuran, Akad Nikah, Bapingit, Bapacar, Badudus/Bapapai, Batamat Quran, Maarak Pangantin, Basanding, dan Basujud. InsyaAllah aku akan mengangkat semua perayaan tersebut sebagai artikel dalam blog ini.
Ritual adatnya sih gak banyak, secara perayaan ini tidak diadakan di Banjarmasin, tapi di Pamekasan, Madura. Tapi, perayaannya telah dilaksanakan dengan sukses, walaupun sempat diselingi oleh hujan. (^_~)
Seperti acara Basanding lainnya, kami juga melakukan acara basuap/basasuap Yaitu acara di mana kita harus berebut menyuapi pasangan kita dengan nasi hadap-hadap dan nasi padapatan.

Setelah semua ritual sukses dilaksanakan, kami mengabadikan gambar bersama. Alhamdulillah, perayaan ini dilaksanakan dengan sukses.
Aku harap, hidup yang akan aku jalani, sesukses acara ini. Amiin... (^_~)


Foto-foto lainnya dapat dilihat di facebook, di friendster, atau di Multiply.
Kamis, 05 Februari 2009
Buah Naga
Untuk kalian, kawan-kawan, aku pingin membagi oleh-olehku selama liburan kemarin.
Salah satunya adalah tentang BUAH NAGA
Buah Naga (dalam Bahasa Inggris disebut Pitaya), adalah buah dari beberapa jenis kaktus yaitu dari marga Hylocereus dan Selenicereus. (Buka Wikipedia untuk lebih jelasnya).
Buah Naga pertama dikembangkan di Meksiko, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan. Namun sekarang, Buah Naga juga dikembangkan di Asia seperti Taiwan, Filipina, Vietnam, dan Indonesia.
Di Indonesia, salah satu daerah penghasil Buah Naga adalah Pulau Madura. Kondisi dan struktur tanah di Pulau Madura yang berupa tanah kapur membuat pohon Buah Naga dapat tumbuh lebih subur dan menghasilkan buah yang lebih manis daripada Buah Naga yang dikembangkan di tanah Jawa.
Buah Naga yang dikembangkan di Pulau Madura adalah Buah Naga yang berjenis Hylocereus undatus, yaitu buah dengan kulit berwarna merah dan daging yang berwarna putih. Rasanya mirip dengan Buah Pir. Manis dan segar.
Satu batang pohon Buah Naga dapat hidup selama ± 20 tahun, dan berbuah selama sepuluh bulan dalam satu tahunnya.
Buah yang telah berumur ± 2 minggu dan berwarna merah sudah dapat dipetik.

Buah Naga lebih nikmat disantap bila sudah diinapkan dulu seharian penuh setelah dipetik. Karena Buah Naga yang baru dipetik rasanya masih agak kecut. Rasa kecut ini akan berangsur hilang setiap harinya.
Buah Naga yang dikembangkan di Pulau Madura, selain memiliki rasa yang lebih manis, juga memiliki kelebihan lainnya. Buah Naga Madura dapat bertahan lebih lama, yaitu 20 hari. Sepuluh hari lebih lama daripada Buah Naga Jawa (bertahan sampai 10 hari). Itu kalau diniarkan di udara terbuka. Bila Buah Naga disimpan di lemari es, dia akan dapat bertahan lebih lama lagi.
Buah Naga berkhasiat untuk menurunkan kolesterol dan penyeimbang gula darah. Karena berasal dari kaktus, Buah Naga juga dipercaya mengandung vitamin C, beta karoten, kalsium, dan karbohidrat. Buah ini juga tinggi serat sebagai pengikat zat karsinogen penyebab kanker dan memperlancar proses pencernaan. Kulit Buah Naga yang sudah dihaluskan dapat dijadikan masker wajah, karena banyak mengandung vitamin E.
Minggu, 04 Januari 2009
Asta Tinggi, Bagian II
Makasih buat Areep yang udah ngusulin ke aku supaya aku bikin rute menuju Asta Tinggi. Walaupun aku gak yakin, apa aku bisa bikin rute yang dimaksud. Sebab, aku sangat parah kalau sudah bicara tentang navigasi. (Jangan nanya mana barat mana timur sama aku, aku gak bakalan tahu! ^0^)
Kita mulai dari yang paling gampang aja, ya...
Untuk menuju ke Asta Tingi, setelah kita sampai di pintu gerbang perbatasan Kota Sumenep, sebenarnya cuma ada 3 belokan saja. Belok kiri, belok kiri, dan belok kanan. Sungguhan, loh! ^_^
Begitu sampai di gerbang Kota, kita tinggal ikuti saja jalan utama, luruuuuusss terus sampai menuju Tugu di tengah kota. (Pokoknya, kalau sudah lihat tugu itu, artinya kita ada di tengah kota, orang Sumenep sendiri menyebut bundaran di tugu itu dengan sebutan "Kota").
Lalu kita belok kiri, teruuuuss jangan hiraukan persimpangan, sehingga kita akan menemukan jalan dimana memang mengharuskan kita untuk belok kiri. ^_^ Kenapa gitu? ya karena sebenarnya ini jalan lurus yang berbelok. Aduh, gimana ya? Yah, jalan lurus yang berbelok,lah! ^0^
Kita akan menyeberangi Jembatan Kebonagung di atas Sungai Kebonagung.
Nah, kalau sudah sampai jembatan itu, artinya tinggal selangkah lagi ke Asta Tinggi. Kita tinggal melihat rambu-rambu saja. Di sana ada petunjuk belok kanan menuju Asta Tinggi.
Jalan menuju Asta Tinggi sangat curam. Jadi, untuk yang tidak pandai mengemudi, berhati-hatilah!. Namanya juga Asta Tinggi, makam yang tinggi.
Di luar kawasan Asta Tinggi, bukan hanya makam raja-raja yang bisa jadi pemandangan. Di sana ada juga sebuah gua yang terdiri dari batu kapur, yang tembusannya tuh ada di tepi Sungai Kebonagung.
Namanya Gua Jeruk.
Waktu aku kecil, aku sering masuk gua ini, terus munculnya di tepian Sungai Kebonagung, terus lanjut pulang ke rumah. Kalau masuk gua dari Asta Tinggi dan muncul di Kebonagung, gak terlalu capek, tapi kalau kebalikannya, sangat melelahkan. Secara kontur dalam gua kan menanjak dan curam.
Tapi sekarang, Gua Jeruk sudah tidak terawat lagi. Gak tahu kenapa gua ini kok gak dijadiin obyek wisata. Padahal, waktu kecil dulu, aku suka sekali menjelajahi gua ini. Berasa jadi Indiana Jones, loh. (Dulu kan aku habis nonton film Indiana Jones waktu masuk gua ini. Berasa berpetualang gitu).
Sedih sih, melihat gua ini jadi tempat sampah penduduk sekitar. Kalau sudah banyak sampah yang numpuk kayak gitu, siapa juga yang tega masuk gua ini?. T_T
Semoga aja deh, Pemda Sumenep bisa memperhatikan gua ini. Gua Jeruk ini potensi wisata buat Kota Sumenep, loh.
Sabtu, 03 Januari 2009
Asta Tinggi: Komplek Makam Raja-raja Sumenep

Setelah acara Baantaran pada hari Minggu (2 November), besoknya (Senin, 3 November), kami membawa keluarga besan untuk jalan-jalan keliling Madura. Tujuan kami kali ini adalah Asta Tinggi, komplek makam raja-raja Sumenep.
Terletak di Kabupaten Sumenep, di sebuah bukit, Asta Tinggi memang diperuntukkan sebagai komplek makam bagi Raja-raha dan keturunannya. Jadi yang dimakamkan di Asta Tinggi ini adalah orang-orang yang memiliki sertifikat sebagai keturunan Raja-raja Sumenep.
Asta Tinggi (asta=makam,peristirahatan), terdiri dari tiga komplek makam. Yang pertama adalah komplek makam bawah, yaitu komplek makam yang diperuntukkan sebagai makam para Raden rendahan. Orang-orang yang "hanya" memiliki gelar "Raden" tanpa embel-embel lainnya, berhak dimakamkan di sini.
Yang Kedua adalah komplek makam luar, untuk Raden menengah, -aku gak tau Raden apaan-, yang jelas mereka bukan keturunan langsung dari raja Sumenep.
Aku gak tahu kenapa, sepertinya komplek makam ini adalah makam tua yang gak terurus. Apa karena sudah gak ada lagi yang berhak di makamkan di sini, ya?
Dan yang terakhir adalah komplek makam dalam, tempat keturunan langsung raja dimakamkan.
Yang berhak dimakamkan di sini adalah keturunan langsung dari Raja-raja Sumenep. Biasanya gelar mereka adalah Raden Panji, Raden Bagus, dan Raden Aju (Raden Ayu, di Sumenep gak ada gelar Raden Ajeng, adanya Raden Aju yang dibaca Dinaju).
Banyak yang bisa kita pelajari di Asta Tinggi ini, misalnya sejarah Raja-raja Sumenep. Karena di komplek makam ini terdapat makam Raja Sumenep yang terkenal yaitu Pangeran Jimad, Bindara Saod, dan Pangeran Panji Pulang Jiwa. (Untuk yang terakhir disebut, udah bikin aku kesel! tar deh aku ceritain).


Pangeran Panji Pulang Jiwa bikin kesel? Iya!
Ceritanya gini, ada mitos di Sumenep yang mengatakan apabila kita memotret kuburan di komplek makam tersebut, kamera atau hasilnya akan rusak. Aku gak percaya!
Bunda juga pernah bilang, sih. Bahwa beliau dulu pernah memotret bagian dalam makam, tapi dengan kamera analog. Hasilnya terbakar semua. Aku gak percaya!
Dan kemarin, aku dengan pedenya memotret semua makam di dalam (yang nisannya dibungkus kain merah itu loh). Dan ketika sampe ke Kubah Pangeran Panji Pulang Jiwa, baterai kameraku habis (aku pakai kamera digital). Kameraku hang setelah aku memotret makam sang Pangeran. (>_<)
Kebayang gak keselnya aku? Bete banget!
Langsung saja aku keluarkan MMC dari kamdig ku, sapa yang tahu apa yang bakal terjadi sama memori di dalamnya?
Dan aku lanjut motret pemandangan lain make kamera di hape. Bodo amat kalo hapeku rusak. Beli lagi aja. Yang jelas aku gak bakalan melewatkan kesempatan emas ini. Kapan lagi aku bisa datang ke Asta Tinggi n motret-motret?
Tahu gak? setelah turun dari komplek Asta Tinggi, kamdig ku kembali normal. (@_@)
Percaya, gak?













